... baca selengkapnya di Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1 Baca Selengkapnya ... »
Feature news
... baca selengkapnya di Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1 Baca Selengkapnya ... »
Peta Kemenangan
Oleh. Abu Ridho
Ini berarti, tidak pernah ada sebuah kemenangan yang diperoleh tanpa kekuatan tekad, kesungguhan dan sandaran yang benar. Nasehat tersebut beliau sampaikan dalam acara Tasqif Pemenangan yang diadakan DPC PKS Pulogadung, Jakarta Timur, 25 Desember kemarin.
Lantas, bagaimanakah proses yang harus kita lalui untuk kemenangan dakwah? Titik-titik apa sajakah yang perlu kita perhatikan, dan bagaimana peta perjalanan menuju kemenangan itu? Berikut ini catatan singkat saya atas uraian tentang komponen proses menuju kemenangan yang disampaikan salah satu deklarator PKS bernama lengkap Abdi Sumaithi ini.
Untuk mencapai kemenangan, secara garis besar ada dua komponen utama yang sangat menentukan, yaitu bidayatul ‘amal dan khawatimul ‘amal.
Bidayatul ‘Amal
Bidayatul ‘amal itu di dalamnya terkandung “azam” atau tekad. Untuk mencapai tujuan, setiap individu maupun organisasi harus mempunyai tekad, juga niat. Tekad dan niat harus kuat. Jika tekad dan niat kita lemah, seluruh proses selanjutnya juga akan lemah.
Itulah sebabnya, kata Rosululloh SAW, Innamal a’malu binniyah. Segala sesuatu tergantung kepada niatnya.
Di dalam konteks politik (amal siyasi), azam dan niat tersebut dapat terwujud dan menghantarkan kita kepada tujuan yang ingin kita capai jika terdapat tiga faktor penting di dalamnya. Ketiga faktor tersebut adalah:
Pertama, moralitas yang kuat; setiap orang diantara kita harus teguh, memiliki motivasi yang kuat, sabar, tahan banting, dan tidak mudah menyerah. Kedua, kepemimpinan yang bijak. Kepemimpinan ini sangat penting dalam menggerakkan organisasi. Ketiga, struktur yang solid. Ini mengingatkan kita untuk tidak saling gontok-gontokan di dalam struktur, harus kompak dan kokoh.
Meskipun masuk ke dalam ranah politik, kita harus mengingat bahwa upaya mencapai tujuan ini tetap ada dalam bingkai “gerakan dakwah”. Karena itu, jangan dilupakan tentang pentingnya unsur Allah. Kedekatan dengan Allah itu justru akan sangat menentukan. Sebab, kemenangan yang kita idam-idamkan itu asalnya pun dari Allah.
Kedekatan dengan Allah itu juga berarti bahwa kita jangan sampai melakukan kemaksiatan. Memang ada kemungkinan kemenangan diberikan kepada mereka yang melakukan kemaksiatan. Kemenangan seperti ini sebetulnya bukan kemenangan sejati, melainkan istidroj. Allah menunda siksanya, untuk suatu saat diberikan hukuman yang jauh lebih berat. Diangkat dulu, baru kemudian diterbalikkan. Agar kemenangan kita bukan istidroj, kita harus berserah diri. Bertawakkal kepada Allah SWT.
Selanjutnya, ketika ketiga faktor tadi sudah terdapat dalam gerakan politik yang kita lakukan, maka akan lahirlah gerakan politik yang memiliki nilai-nilai jihadiyah, itqon dan tawakkal. Sebuah gerakan yang sejak jaman dahulu telah melahirkan banyak kemenangan.
Meskipun demikian, bukan berarti bahwa gerakan politik yang telah memiliki ketiga faktor tadi akan menjamin tercapainya tujuan yang kita cita-citakan. Masih diperlukan faktor-faktor penguat lagi. Faktor pengugat tersebut adalah: istiqomah, istimroriyah, himmah dan jiddiyah.
Istiqomah itu konsisten. Dari keisqomahan atau konsistensi tersebut akan melahirkan faktor penguat yang kedua, yaitu “istimroriyah” atau keberlanjutan. Artinya, usaha-usaha dan kerja-kerja dakwah tersebut bukan hanya kerja satu atau dua kali, tetapi dilakukan secara terus menerus. Tidak hanya pada saat pemilu saja, melainkan sepanjang waktu.
Selain istiqomah dan istimroriyah, juga perlu adanya himmah. Dengan himmah kita tidak akan menentapkan target yang standar atau yang biasa-biasa saja. Tetapi, target-target yang menantang. Target yang tidak alakadarnya akan mempengaruhi seberapa kuat kesungguhan (jiddiyah, faktor keempat) kita dalam mengejar cita-cita tersebut.
Demikianlah proses dan titik-titik dari azam hingga lahirnya sebuah gerakan yang mempunyai nilai-nilai jihadiyah,itqon dan tawakkal kepada Allah SWT.
Khawatimul ‘Amal
Kepada siapa kita arahkan kerja-kerja dakwah yang dilandasi seluruh faktor di atas tadi? Jawabannya tentu saja dua: yaitu kepada mereka-mereka yang ada di dalam (internal) dan yang di keluar (eksternal). Karena itulah, di dalam proses menuju kemenangan, yang juga harus dilakukan selanjutnya adalah konsolidasi dan ekspansi.
Di tahap konsolidasi, yang harus dikonsolidasi adalah opini dan psikologi seluruh kader. Harus ada keseragaman terlebih dahulu di kalangan kader. Konsolidasi dan keseragaman ini sangat penting sebelum melakukan konsolidasi tahap berikutnya, yaitu konsolidasi gerakan.
Sama seperti di tahap bidayatul ‘amal, di tahap konsolidasi ini pun karakter dakwah yang mendasari seluruh gerakan kepada hanya Allah tetap harus menonjol. Maka, yang dikonsolidasi bukan hanya manusia dan lingkungan, jiwa dan raga kita juga harus dikonsolidasi kembali dan didekatkan lagi kepada Allah. Ini karakter dakwah, sehingga gerakan yang kita lakukan tetap menunjukkan bahwa yang kita cari adalah ridho Allah.
Dengan mendekatkan diri kepada Allah ini, insyaAllah yang akan mendapatkan ta’yidulloh atau dukungan Allah SWT.
Begitu juga dukungan publik, insyaAllah akan kita dapatkan pula. Syaratnya, kita melakukan langkah-langkah yang kita sebut dengan langkah ekspansif.
Jadi, bukan hanya mengarahkan kerja-kerja dakwah dalam bentuk penyebaran opini, gagasan, psikologi maupun gerakan ke kalangan internal, melainkan juga ke eksternal, ke masyarakat umum dan lingkaran yang lebih luas lagi.
Sampai di sini, kerja-kerja dakwah menuju kemenangan hampir sempurna. Meskipun demikian, kita tidak boleh melupakan masa-masa yang disebut dengan “masa kritis”, yaitu masa di mana serangan-serangan mungkin menghantam perjalanan kita menuju kemenangan.
Mulai dari munculnya badai krisis, saat meningkat maupun mereda, yang harus kita lakukan adalah tetap tegar, sabar, dan waspada. Jangan lengah karena mungkin saja saat mereda, muncul lagi badai-badai lain yang lebih besar.
Selanjutnya adalah tahap yang disebut khawatimul a’mal. Di sinilah kita diuji untuk menuntaskan seluruh proses dari awal hingga akhir dengan baik. Kerja-kerja yang kita lakukan harus tetap kita tujukan untuk mencapai cita-cita yang kita rancang sejak awal.
Manakala seluruh proses itu kita lewati, dan kita bisa finishing seluruh proses dengan benar dan tetap sesuai dengan tujuan awal, di titik inilah kita sampai pada kemenangan, yaitu sukses mencapai cita-cita politik kita.
Inilah peta menuju kemenangan. Pengurus-pengurus di struktur partai maupun kader bisa menyusun kerangka acuan ini menjadi bagian yang lebih rinci lagi. Sehingga setiap orang dapat mengetahui apa-apa saja yang harus dilakukan.
*by Mochamad Husni
@mochus
Baca Selengkapnya ... »
![]() |
| Ust. Abu Ridho | www.pkspiyungan.org |
Ini berarti, tidak pernah ada sebuah kemenangan yang diperoleh tanpa kekuatan tekad, kesungguhan dan sandaran yang benar. Nasehat tersebut beliau sampaikan dalam acara Tasqif Pemenangan yang diadakan DPC PKS Pulogadung, Jakarta Timur, 25 Desember kemarin.
Lantas, bagaimanakah proses yang harus kita lalui untuk kemenangan dakwah? Titik-titik apa sajakah yang perlu kita perhatikan, dan bagaimana peta perjalanan menuju kemenangan itu? Berikut ini catatan singkat saya atas uraian tentang komponen proses menuju kemenangan yang disampaikan salah satu deklarator PKS bernama lengkap Abdi Sumaithi ini.
Untuk mencapai kemenangan, secara garis besar ada dua komponen utama yang sangat menentukan, yaitu bidayatul ‘amal dan khawatimul ‘amal.
Bidayatul ‘Amal
Bidayatul ‘amal itu di dalamnya terkandung “azam” atau tekad. Untuk mencapai tujuan, setiap individu maupun organisasi harus mempunyai tekad, juga niat. Tekad dan niat harus kuat. Jika tekad dan niat kita lemah, seluruh proses selanjutnya juga akan lemah.
Itulah sebabnya, kata Rosululloh SAW, Innamal a’malu binniyah. Segala sesuatu tergantung kepada niatnya.
Di dalam konteks politik (amal siyasi), azam dan niat tersebut dapat terwujud dan menghantarkan kita kepada tujuan yang ingin kita capai jika terdapat tiga faktor penting di dalamnya. Ketiga faktor tersebut adalah:
Pertama, moralitas yang kuat; setiap orang diantara kita harus teguh, memiliki motivasi yang kuat, sabar, tahan banting, dan tidak mudah menyerah. Kedua, kepemimpinan yang bijak. Kepemimpinan ini sangat penting dalam menggerakkan organisasi. Ketiga, struktur yang solid. Ini mengingatkan kita untuk tidak saling gontok-gontokan di dalam struktur, harus kompak dan kokoh.
Meskipun masuk ke dalam ranah politik, kita harus mengingat bahwa upaya mencapai tujuan ini tetap ada dalam bingkai “gerakan dakwah”. Karena itu, jangan dilupakan tentang pentingnya unsur Allah. Kedekatan dengan Allah itu justru akan sangat menentukan. Sebab, kemenangan yang kita idam-idamkan itu asalnya pun dari Allah.
Kedekatan dengan Allah itu juga berarti bahwa kita jangan sampai melakukan kemaksiatan. Memang ada kemungkinan kemenangan diberikan kepada mereka yang melakukan kemaksiatan. Kemenangan seperti ini sebetulnya bukan kemenangan sejati, melainkan istidroj. Allah menunda siksanya, untuk suatu saat diberikan hukuman yang jauh lebih berat. Diangkat dulu, baru kemudian diterbalikkan. Agar kemenangan kita bukan istidroj, kita harus berserah diri. Bertawakkal kepada Allah SWT.
Selanjutnya, ketika ketiga faktor tadi sudah terdapat dalam gerakan politik yang kita lakukan, maka akan lahirlah gerakan politik yang memiliki nilai-nilai jihadiyah, itqon dan tawakkal. Sebuah gerakan yang sejak jaman dahulu telah melahirkan banyak kemenangan.
Meskipun demikian, bukan berarti bahwa gerakan politik yang telah memiliki ketiga faktor tadi akan menjamin tercapainya tujuan yang kita cita-citakan. Masih diperlukan faktor-faktor penguat lagi. Faktor pengugat tersebut adalah: istiqomah, istimroriyah, himmah dan jiddiyah.
Istiqomah itu konsisten. Dari keisqomahan atau konsistensi tersebut akan melahirkan faktor penguat yang kedua, yaitu “istimroriyah” atau keberlanjutan. Artinya, usaha-usaha dan kerja-kerja dakwah tersebut bukan hanya kerja satu atau dua kali, tetapi dilakukan secara terus menerus. Tidak hanya pada saat pemilu saja, melainkan sepanjang waktu.
Selain istiqomah dan istimroriyah, juga perlu adanya himmah. Dengan himmah kita tidak akan menentapkan target yang standar atau yang biasa-biasa saja. Tetapi, target-target yang menantang. Target yang tidak alakadarnya akan mempengaruhi seberapa kuat kesungguhan (jiddiyah, faktor keempat) kita dalam mengejar cita-cita tersebut.
Demikianlah proses dan titik-titik dari azam hingga lahirnya sebuah gerakan yang mempunyai nilai-nilai jihadiyah,itqon dan tawakkal kepada Allah SWT.
Khawatimul ‘Amal
Kepada siapa kita arahkan kerja-kerja dakwah yang dilandasi seluruh faktor di atas tadi? Jawabannya tentu saja dua: yaitu kepada mereka-mereka yang ada di dalam (internal) dan yang di keluar (eksternal). Karena itulah, di dalam proses menuju kemenangan, yang juga harus dilakukan selanjutnya adalah konsolidasi dan ekspansi.
Di tahap konsolidasi, yang harus dikonsolidasi adalah opini dan psikologi seluruh kader. Harus ada keseragaman terlebih dahulu di kalangan kader. Konsolidasi dan keseragaman ini sangat penting sebelum melakukan konsolidasi tahap berikutnya, yaitu konsolidasi gerakan.
Sama seperti di tahap bidayatul ‘amal, di tahap konsolidasi ini pun karakter dakwah yang mendasari seluruh gerakan kepada hanya Allah tetap harus menonjol. Maka, yang dikonsolidasi bukan hanya manusia dan lingkungan, jiwa dan raga kita juga harus dikonsolidasi kembali dan didekatkan lagi kepada Allah. Ini karakter dakwah, sehingga gerakan yang kita lakukan tetap menunjukkan bahwa yang kita cari adalah ridho Allah.
Dengan mendekatkan diri kepada Allah ini, insyaAllah yang akan mendapatkan ta’yidulloh atau dukungan Allah SWT.
Begitu juga dukungan publik, insyaAllah akan kita dapatkan pula. Syaratnya, kita melakukan langkah-langkah yang kita sebut dengan langkah ekspansif.
Jadi, bukan hanya mengarahkan kerja-kerja dakwah dalam bentuk penyebaran opini, gagasan, psikologi maupun gerakan ke kalangan internal, melainkan juga ke eksternal, ke masyarakat umum dan lingkaran yang lebih luas lagi.
Sampai di sini, kerja-kerja dakwah menuju kemenangan hampir sempurna. Meskipun demikian, kita tidak boleh melupakan masa-masa yang disebut dengan “masa kritis”, yaitu masa di mana serangan-serangan mungkin menghantam perjalanan kita menuju kemenangan.
Mulai dari munculnya badai krisis, saat meningkat maupun mereda, yang harus kita lakukan adalah tetap tegar, sabar, dan waspada. Jangan lengah karena mungkin saja saat mereda, muncul lagi badai-badai lain yang lebih besar.
Selanjutnya adalah tahap yang disebut khawatimul a’mal. Di sinilah kita diuji untuk menuntaskan seluruh proses dari awal hingga akhir dengan baik. Kerja-kerja yang kita lakukan harus tetap kita tujukan untuk mencapai cita-cita yang kita rancang sejak awal.
Manakala seluruh proses itu kita lewati, dan kita bisa finishing seluruh proses dengan benar dan tetap sesuai dengan tujuan awal, di titik inilah kita sampai pada kemenangan, yaitu sukses mencapai cita-cita politik kita.
Inilah peta menuju kemenangan. Pengurus-pengurus di struktur partai maupun kader bisa menyusun kerangka acuan ini menjadi bagian yang lebih rinci lagi. Sehingga setiap orang dapat mengetahui apa-apa saja yang harus dilakukan.
*by Mochamad Husni
@mochus
PKS Kecamatan GODEAN, Takkan surut!!
Pagi itu tidak biasanya lapangan sepak bola kalurahan sidoarum tampak padat. Jalan raya di depan lapangan Sidoarum tampak padat merayap. Pagi itu lapangan kalurahan Sidoarum memang sedang dipakai kegiatan Liqoh Tansiqi 3 (LT3 Besar) besar DPC PKS Godean. DPC PKS Godean pada saat itu menggelar LT3 Besar dalam bentuk PKS Fun Bike. Berdasar konsumsi yang dibagikan menurut salah satu panitia Akh Wndarto lebih kurang 1.000 orang kader dan simpatisan mengikuti kegiatan Fun Biketersebut.
Kegiatan fun bike tersebut menyusuri jalan-jalan desa di kalurahan Sidoarum. Peserta fun bike berjajar dua-dua sehingga membentuk barisan sepeda yang panjang. Peserta paling depan tidak tanggung yaitu ketua DPW PKS DIY Dr Sukamto beserta Aleg PKS Zuhrif Hudaya. Ketertiban peserta yang dibantu oleh barisan kepanduan PKS menyebabkan barisan sepeda peserta fun bike tidak mengganggu pejalan yang lain. Yang menarik dalam kegiatan tersebut adalah adanya kader PKS yang mengkreasinya sepedanya sedemikian rupa sehingga menarik peserta lain atau masyarakat yang keluar rumah untuk melihat aksi goes kader PKS Godean.
Kegiatan Goes kurang lebih menempuh jarak 5 Km dan berakhir di kalurahan Sidoarum. Di Tengah perjalan peserta diberi tiket doorprize. Dalam kegiatan PKS Fun Bike tersebut memang di undi ratusan doorprize yang terdiri dari 1 kulkas dan 1 televisi sumbangan caleg PKS DPR Propinsi DIY nomor urut 3 Nandar Winoro, 1 televisi sumbangan caleg PKS Kabupaten Sleman nomor urut 1 Muhammad Zuhdan, 1 sepeda sumbangan caleg PKS Kabupaten Sleman Nomor urut 2 , 1 kambing sumbangan caleg DPR RI propinsi DIY Nomor Urut Dr. Sukamta, 20 ayam kampong babon sumbangan calag DPR RI nomor urut 2 Ahmad Sumiyanto 1, dan ratusan doorprze lainnya.
Ketua DPC PKS Hanifuddin ketika ditanya darimana asal doorprize mengatakan bahwa doorprize yang bernilai besar diperoleh dari caleg-caleg PKS, sedangkan ratusan doorprize senilai 10.000 s.d. 300.000 berasal dari sumbangan para kader PKS diwilayah Godean. Menurut Hanifuddin pada saat ini di Godean ada kurang lebih 50 kader PKS. Kader-kader tersebut secara bersama-sama berpatungan Dana sebesar 3.500.000 yang dipakai untuk operasional juga merupakan patungan dari kader-kader PKS Godean.
Ketika disinggung pertanyaan bagaimana kalau yang hadir hanya bermotivasi mendapatkan doorprize saja, sedangkan nantinya tidak memilih PKS. Ketua DPC PKS Godean yang akrab dipanggil Ustadz Hanif mengatakan “bagi kami PKS yang penting adalah beramal untuk masyarakat, masalah memilih atau tidak biarlah itu urusan Allah SWT. Sebagaimana dulu ketika Rosulullah berdakwah, semua didakwai Rosulullah, saudara, teman, bahkan orang yang memusuhi Islam pun di dakwai, maka begitu juga prinsip kami, semua disapa, semua dilayani, semua di ajak bersaudara, masalah mereka memilih atau tidak itu hak Allah yang menentukan.
Hal senada juga diungkapkan Ustadz Kuadi selaku ketua bidang kaderisasi PKS Godean belilau menyatakan ” manusia yang menciptakan adalah Allah, Allah pula yang menentukan pilihan hati seseorang, bagi Allah sangat mudah mengubah orang dari dulu memilih tempe menjadi memelih tahu, sangat mudah bagi Allah mengubah seseorang dari dulu memilih jeruk menjadi memilih apel. Jadi bagi kami yang penting adalah berusaha untuk mengajak pada kebaikan, karena pada dasarnya itulah yang dinilai oleh Allah. Masalah pilih mememilih itu semua hak Allah.
Sebelum diadakan pengundian doorprize dilakukan prosesi acara LT3 Besar yang meliputi pembukaan, taujih rabbani (pembacaan Kalam Al Qur’an) menyanyikan Lagu Indonesia Raya dan Mars PKS, dan terakhir taujih kemenangan da’wah oleh Ketua DPW PKS Godean Dr. Sukamto. Yang menarik ketika Dr. Sukamta dalam taujihnya menyanyakan apakah yang hadir mau kalau BBM dinaikan dengan serempak semua menjawab tidak mau.
Tibalah saatnya pengundian Doorprize. Peserta tampak antusias menanti mendapatkan doorprize. Satu-satu persatu peserta yang mendapatkan doorprize datang dan menerima doorprize, ketika tiba pengundian doorprize utama, peserta semakin merangsek kedepan panggung. Dan akhirnya doorprize utama diperoleh oleh seorang remaja yang beralamat di Ngrenak Sidomoyo, yang saying penulis lupa namanya.
Pada akhir pelaksanaan ada salah satu peserta yang memberikan testimony berikut : Dia meyakini PKS yang dekat dengan rakyat seperti ini tetap akan didukung. Saya dan keluarga dari dulu mendukung, yang di TV itu beritanya belum tentu benar, dia lebih percaya apa yang ia lihat dengan kepala sendiri akan kiprah dan akhlaq para kader PKS di lingkungannya. Walau prahara menempa pengajian tetap jalan terus, aksi sosial juga jalan. Ustadz PKS yang mengisi ditempatnya juga tidak pernah meminta kami memilih PKS. Tapi ikatan hati dan teladan ustdaz PKS ditempat dia yang membuat dia dan keluarga tetap mendukung PKS.
Kabar KPK versi Fahri Hamzah
by @Fahrihamzah
KPK sibukkan diri dengan kasus kecil supaya bisa sembunyikan kasus besar...seperti mega skandal #CENTURY
Kalau KPK sadar UU KPK maka kasus kecil harusnya dibuang ke POLRI...dan Kejaksaan...
KPK gak akan mengeluh kekurangan tenaga kalau mereka sadar bahwa UU menghendaki ‘orkestra’ pemberantasan korupsi.
Gaji penyidik KPK sampai 5-6 kali gaji penyidik POLRI...biaya 10 kali atau tak terbatas...ini sumber tenaga besar.
Kewenangannya dikasi tenaga lagi; boleh melanggar KUHAP...tapi kenapa tenaga besar dipakai membunuh cicak bukan buaya?
Saban hari bicara betapa korupsi merusak dan merajalela tapi tiap hari juga menghindar dari sumber masalah..
Setiap hari bikin ribut ada ancaman naga tapi setiap hari membunuh cacing tanah...
Waktu KPK dikasi tahu baek2 kasus ini...bahwa masalah ini terlalu terang..eh dia bilang sulit... krn mereka terlibat kok.
Bentar lagi pasti ada yg tangkap tangan lagi deh...cacing tanah dan cicak lagi diintip...hap! lalu ditangkap...
Lalu dia bilang ada simpanan dan mengalirkan TPPU ke artis dangdut...bla..bla...
Riset media saya kemarin menunjukkan kasus ganjil pemeriksaan Boediono sudah dilupakan...
Demonstrasi wartawan di gedung KPK bahkan oleh wartawan sendiri tak kuasa dikembangkan...
Kasus #CENTURY ini adalah saksi pertunjukan KPK untuk menghibur belaka bukan menyelesaikan masalah..
Kita penonton lugu menganggap nya gratis...tapi kita akan bayar mahal...destruksi ini fatal...
*https://twitter.com/Fahrihamzah
Caleg PKS : Harus Bermental Juara!
Acara pembekalan caleg PKS se Kalimantan Barat yang di sampaikan langsung oleh Presiden PKS Anis Matta dikuti tidak kurang dari 400 caleg se-Kalbar.
Acara yang dihelat di hotel Mahkota Pontianak, Sabtu, (30/11) juga diikuti oleh jajaran pengurus wilayah PKS Kalbar.
Dalam pemaparannya Anis Matta mengajak para Caleg PKS untuk memahami filosofi pemain sepakbola. Ditengah gencarnya hasil survei yang muncul di media.
"Sebagai pemain langsung kita tidak boleh terpengaruh oleh suara penonton dan pengamat, tugas caleg sebagai pemain harus fokus menggiring bola dan mencetak gol. Itulah mental juara," ujar Anis Matta.
Lebih lanjut Anis Matta mengatakan, "Untuk itu caleg harus punya nafas panjang, karena kita sedang bermain, dan dalam bermain ini kita tidak boleh menyerah sampe waktu habis," ujarnya.
Hanya ada 2 Pilihan : PKS atau GOLPUT
Kemarin, Selasa (26/11), di tempat kerja ada meeting karyawan yang dipimpin direksi, Bu Elizabeth. Saat usai meeting, dilanjut ngobrol santai. Obrolan macam macam termasuk ngomongin perpolitikan negeri ini. Dari SBY sampai Jokowi.
Tiba-tiba salah satu peserta meeting nyeletuk ke direksiku, "Pemilu 2014 pilih siapa?"
Dan gak nyangkah dia jawab, "Cuma 2 pilihan, PKS atau golput".
Padahal direksiku termasuk nasrani yang taat.
Subhanallah... Dalam hati aku takjub, PKS bak mutiara yang selalu berkilau dan menempati hati siapa saja, tak memandang suku agama.
Semoga negeri ini dipimpin oleh PKS menuju masa kegemilangan.
-dituturkan oleh @rifki_moch on twitter
Langganan:
Komentar (Atom)
Copyright © 2013 Blog Pribadi Muh.Zuhdan and Blogger Templates


